Posts

,

Liburan? Nyantri Yuk!

Belajar tamyiz

“SEBENTAR LAGI LIBUR PANJANG Nih… YUK JADI SANTRI BULANAN!! 😁”

Santri bulanan itu bukan santri yang sedang terkena bulan bulanan oleh warga lo ya.. (Oh No!!) 😆
Dan juga bukan santriwati yang sedang kena datang bulan.. (Ups!!) ☺

Jika didalam pesantren terdapat istilah SANTRI MUKIM (santri yang belajar dan tidurnya di pesantren, dan SANTRI KALONG (santri yang belajar di pesantren tapi tidurnya dirumah atau tidak menetap di pesantren tersebut/ Pulang pergi). Maka di Pesantren Bayt Tamyiz bukan hanya ada istilah santri mukim dan santri kalong saja , namun juga ada istilah SANTRI BULANAN (Sebutan yang biasa digunakan) atau Istilah yang sebenarnya adalah SANTRI TAKHASSUS .

Yang dimaksud dengan santri Takhassus atau santri bulanan di Pesantren Bayt Tamyiz adalah santri yang mukim atau bertempat tinggal dan belajar dipondok Pesantren Bayt tamyiz namun hanya sampai mereka selesai mempelajari Metode Tamyiz.

Untuk mempelajari dan mendalami metode tamyiz, masing masing orang menghabiskan perkiraan waktu yang hampir sama.

Jika tujuan kamu ke Pondok Pesantren Bayt Tamyiz karena ingin bisa menerjemahkan apa yang disampaikan Al Qur’an tanpa harus membuka Al Qur’an terjemah. Hanya butuh waktu 1 minggu kamu bisa menguasainya disini. Dengan mempelajari Tamyiz 1.

Dan jika kamu ingin bisa membaca kitab kuning dengan nahwu Shorof. Hanya perlu menambahkan 1 minggu lagi untuk bisa membaca kitab kuning dalam waktu singkat. Dengan mempelajari Tamyiz 2.

Dimana lagi pondok yang bisa mengajarkan kita pintar terjemah Al Qur’an dan bisa membaca kitab kuning dengan nahwu sorof selama 2 minggu? Tentu saja di Bayt Tamyiz dong.. Kalau tidak percaya, jangan cuma bicara ya.. sebelum membuktikan 😌 Ayo Buktikan!! (Siapa Takut) 😁

Meskipun Metode tamyiz ini mudah namun kita sudah menerapkannya dengan target dan sudah terbukti target kita tercapai sesuai dengan tingkatan-tingkatan metode Tamyiznya. Dan untuk sekarang ini penelitian metode Tamyiz sudah bisa kita nikmati dari Tamyiz 1 sampai dengan Tamyiz 5 lho.. (Mantull gak sih.. Mantapp Betull, jadi gak perlu meneliti sendiri sampai botak kayak Einstein deh Alhamdulillah 😍)

Jika kamu tidak hanya ingin bisa pintar menerjemahkan Al Qur’an dan pintar membaca kitab kuning saja, Namun kamu juga ingin bisa pintar mengi’rob, pintar mentarkib dan pintar I’lal sekaligus. Kamu harus menghabiskan 3 bulan disini untuk menuntaskan target target yang ada di dalam Metode Tamyiz 1 sampai dengan Tamyiz 5.(Bisa jadi buronan mertua nih, kalau sampai khatam semuanya xi..xi..xi 😅)

Dan jika kamu ingin mematangkan semuanya kamu harus menambah waktu belajarmu 3 bulan lagi untuk masa PEMATANGAN dan PRAKTEK MENGAJAR.
(Ini tidak wajib ya.. Opsional saja jika usia kamu tidak terburu buru untuk menikah🧐 Eh! Maksud saya jika masih memiliki banyak waktu luang😅)

Dalam masa pematangan Kamu akan diajarkan cara mengajar ilmu yang sudah kamu dapat dan praktek mengajar langsung deh menggunakan keahlian Metode Tamyiz 1 sampai dengan Tamyiz 5 tadi. (Siap siap jadi Ustad / Ustadzah dadakan ya.. Walaupun untuk sementara sampai benar benar bisa menjadi Asatidz beneran dirumah ☺)

Kelebihan dari bisa mendapat kesempatan praktek mengajar di Bayt Tamyiz adalah.. kamu bisa semakin mengerti dan bisa menanyakan langsung kepada Ustad yang mengajar Metode Tamyiz, termasuk Abah Zaun penemu Metode Tamyiz itu sendiri, jika ada materi yang belum kamu mengerti. (Wah… Masyaallah ya kita bisa belajar langsung dengan penemunya 🤩)

Jadi total waktu belajar dan mengajar untuk pematangan materi adalah 6 bulan. Itupun jika kamu benar benar ingin mendalami nahwu sorof tanpa harus menghabiskan waktu bertahun tahun. (Tanpa harus nunggu jenggotan 😂, atau nunggu berkumis tipis biar manis  😂)

Sehingga kamu bisa pulang dengan lega, bangga dan percaya diri untuk bisa mengamalkan Ilmu Nahwu Shorof dengan Metode Tamyiz dipondok kamu sendiri, atau dirumah, atau dimanapun kamu ingin menebar kebaikan amal jariyah yang kelak akan mengalir pahalanya kepadamu jika apa yang kamu ajarkan bisa diajarkan kembali oleh muridmu. Insyaallah 😇

 Itulah kira-kira tahapan untuk menjadi menantu idaman😎.  Eh!! Maksud saya tahapan untuk menguasai hati mertua😂. Astaghfirullahaladzim.. Maksud saya Tahapan untuk menguasai Metode Tamyiz. 🙏🙏🙏

Jangan lupa dishare ya, biar kamupun mendapatkan pahala jika ada yang belajar Tamyiz berkat postingan yang kamu share.

Bercandanya jangan dimasukin hati ya.. Semoga bermanfaat. Salam Tamyiz!! “Mudah..Mantap.. Alhamdulillah!!” 😁

Oleh : Anissa Bani Syafii

Metode TAMYIZ Mudah Terjemah Al Qur’an dan Baca Kitab Kuning

“Formulasi Teori Quantum Nahwu-Shorof Linnaasyiin

Oleh : Imran Nur Annas

Bahasa Arab mempunyai peranan yang begitu penting dalam perjalanan seorang muslim untuk memperdalam ilmu agama. Hal ini disebabkan literatur yang berkaitan dengan pengetahuan agama kebanyakan menggunakan bahasa Arab. Sementara, stigma yang berkembang di sebagian masyarakat muslim Indonesia berasumsi bahwa belajar bahasa Arab masih dianggap sulit dan rumit, padahal setiap bahasa memiliki tingkat kesulitan dan kemudahan yang berbeda-beda tergantung pada karakteristik sistem bahasa itu sendiri, baik sistem fonologi, maupun sintaksis dan simantiknya.

Dalam pengajaran bahasa salah satu segi yang sering disorot adalah segi metode. Sukses atau tidaknya pengajaran bahasa sering kali dinilai dari segi metode yang digunakan, sebab metodelah yang menentukan isi dan cara pengajaran bahasa arab. Sedangkan dalam pengajaran bahasa ada tiga istilah yang perlu dipahami pengertian dan konsepnya secara tepat, yakni pendekatan, metode dan teknik. Pendekatan adalah seperangkat asumsi berkenaan dengan hakekat bahasa, dan belajar mengajar bahasa. Metode adalah rencana menyeluruh penyajian bahasa secara sistematis berdasarkan pendekatan yang ditentukan. Dan teknik adalah kegiatan spesifik yang diimplementasikan dalam teks, selaras dengan metode dan pendekatan yang telah dipilih. Maka pendekatan bersifat aksiomatis, metode bersifat prossedural, dan teknik bersifat oprasional.

Seorang muslim yang ingin menguasai bahasa Arab diharuskan melalui proses pembelajaran bahasa Arab. Adapun menurut Syekh Mustafa Al-Ghalayani, dalam kitab “Jami’ al Durus al Lughah al ‘Arabiyyah” sarana yang digunakan seorang muslim dalam pembelajaran bahasa Arab ada 13 macam pembahasan, diantaranya adalah Nahwu dan Shorof. Untuk memahami dan menguasai ilmu tersebut membutuhkan waktu yang lama untuk mempelajarinya. Nahwu-Shorof adalah dua disiplin ilmu yang dapat digunakan sebagai ilmu alat untuk dapat membantu menterjemahkan dan memahami Al-Qur’an dan kitab kuning dengan baik dan benar.

Nahwu-Shorof adalah dua disiplin ilmu yang dapat digunakan sebagai ilmu keterampilan atau ilmu alat, dan membantu untuk dapat menterjemahkan dan memahami Al-Qur’an dan kitab kuning dengan benar. Sebagai ilmu alat, Nahwu-Shorof tumbuh dan berkembang sejak zaman sahabat tabi’in. Ilmu Nahwu pertama kali disusun oleh Abdul Aswad Ad-Duali atas perintah shahabat Ali Karromallahu Wajhah “Syarah Muhtasor Jiddan”, sedangka ilmu Shorof pertama kali disusun oleh Ulama’ dari kufah yang bernama Imam Mu’adz bin muslim “As-Sorful Wadih”.

Buku Tamyiz ini disusun atas inisiatif Dr. HMS. Kaban sepulang dari ziarah ke maqbaroh Imam Syafi’i di Mesir kepada Abaza, M.M. untuk melakukan riset, agar anak-anak Indonesia dapat mencontoh Imam Syafi’i yang sejak kecil di usia 10 tahun sudah pintar mengajarkan Al-Qur’an dan kitab kuning di majlis ilmu. Artinya Dr. HMS. Kaban mempunyai harapan besar untuk mencetak anak-anak kecil Indonesia menjadi “Imam-Imam Syafi’i Kecil” di Negara yang mayoritas muslim ini. Maka Abaza, M.M. melakukan sedikit bongkar pasang puzzle terhadap teori Nahwu-Shorof yang selama ini dianggap sudah baku, supaya dapat diajarkan dan dipahami dengan mudah dan menyenangkan oleh anak kecil Indonesia yang rata-rata hanya bisa membaca Al-Qur’an dengan metode tajwid tanpa memahami terjemahnya. Dan dengan menggunakan pendekatan struktur satuan bahasa dimulai dari satuan yang terkecil yaitu abjad, kalimah / lafadz sampai kepada satuan yang terbesar yaitu jumlah / kalam. Dengan hasil akhir anak kecil tersebut dapat membaca, menerjemahkan dan mengajarkaan Al-Qur’an dan kitab kuning sesuai dengan kaidah Nahwu-Shorof yang juga disesuaikan dengan latar belakang orang Indonsia.

Riset Metode Tamyiz dilaksanakan dengan mengembangkan sedemikian rupa cara pengajaran Kyai Anas Tamyiz dikombinasikan dengan berbagai metode pembelajaran efektif dalam sebuah riset dari bulan Mei-Desember 2009 dengan random multi stage sampling. Sample hampir meliputi 1.000 responden dengan berbagai latar belakang usia dan pendidikan. Uji validasi terakhir dilakukan secara masal kepada 56 santri cilik siswa SD/MI usia 7-12 tahun “peserta pesantren liburan tengah semester tahun ajaran 2009-2010” yang belajar Metode Tamyiz selama 12 hari di Pesantren Bayt Tamyiz Indramayu.

 

Setelah bongkar pasang puzzle tersebut membuahkan hasil berupa gambar santri kecil Indonesia usia SD/MI yang pintar menerjemahkan Al-Qur’an dan membaca kitab kuning Fathul qorib, Abaza, M.M. meminta kepada Prof. Dr. KH. Akhsin Sakho Muhammad al-Hafidz untuk memberikan sentuhan akhir dengan mentashih terjemah Al-Qur’an dan bacaan kitab Fathul Qorib para santri pada hari Ahad tanggal 10 Januari 2010. Alhamdulillah, para santri  mendapatkan nilai sangat memuaskan “mumtaz”. Prof. Dr. KH. Akhsin Sakho Muhammad al-Hafidz yang sekarang menjabat sebagai Sekretaris Lajnah Pentashih Al-Qur’an Kementrian Agama RI menjelaskan:

kendala yang dihadapi santri selama ini adalah sulitnya memformulasikan teori nahwu-shorof dengan cara pembelajaran yang mudah, karena nahwu-shorof terlanjur dipersepsikan sebagai pelajaran yang sulit”. Adapun kendala tersebut adalah : Harus belajar membaca kitab nahwu dan shorof; harus belajar menerjemahkan kitab tersebut; Harus belajar memahami teori kitab tersebut; Harus belajar mengaplikasikan teori kitab tersebut pada kitab kuning lain; Pada kitab tertentu harus menghafal matan dan nadzom.

Karena kendala itulah maka dibutuhkan waktu bertahun-tahun bagi santri untuk dapat membaca kitab kuning. Dengan Metode Tamyiz, kendala itu bisa teratasi. Pasalnya, Metode Tamyiz merupakan formulasi teori Quantum Nahwu-Shorof Linnaasyiindengan cara pembelajaran yang mudah dan menyenangkan bagi santri Indonesia. Sebuah metode yang mampu membuat santri dan siapapun yang bisa membaca Al-Qur’an bisa langsung pintar membaca, menguraikan struktur kata sekaligus menerjemahkan Al-Qur’an dan kitab kuning dengan pendekatan struktur satuan bahasa dimulai dari terkecil yaitu abjad, kalimah / lafadz sampai yang terbesar yaitu jumlah / kalam “struktur yang tadrijiy” dalam waktu kurang lebih 100 jam belajar atau tidak perlu bertahun-tahun untuk bisa membaca kitab kuning.

Setelah memberikan penilaian dan penjelasan tentang Metode Tamyiz,  Prof. Dr. KH. Akhsin Sakho Muhammad al-Hafidz selaku Dewan Pembina Pesantren Bayt Tamyiz memberikan masukan kepada Abaza, M.M. bahwa setelah santri menyelesaikan pembelajaran terjemah makna Al-Qur’an dengan Metode Tamyiz dilanjutkan dengan pembelajaran tahfidz terjemah makna Al-Qur’an karena salah satu masalah yang dihadapi umat Islam Indonesia adalah bisa membaca dan menghafal Al-Qur’an tetapi kebanyakan tidak memahami terjemah makna Al-Qur’an yang dibaca dan dihafalnya.

Nasehat Prof. Dr. KH. Akhsin Sakho Muhammad al-Hafidz tersebut diwujudkan melalui riset untuk menyusun kamus Al-Qur’an 30 juz yang diberi nama “Kamus KAWKABAN”, kamus khusus Al-Qur’an yang bukan sekedar untuk mencari terjemah suatu kata dalam Al-Qur’an, tetapi kamus tersebut dapat memudahkan untuk menghafal terjemah makna Al-Qur’an, sehingga memahami dan menghafal terjemah makna Al-Qur’an menjadi benar-benar mudah. Hasil riset penulisan kamus KAWKABAN tersebut, kemudian dilanjutkan dengan penulisan Al-Qur’an yang diberi nama Al-Qur’an KAWKABAN yang dibuat khusus untuk membantu pembacanya bisa memahami dan menghafal terjemah makna Al-Qur’an. Al-Qur’an KAWKABAN merupakan sarana pembelajaran metode Tamyiz 1 “metode terjemah makna Al-Qur’an lafdziyah” dengan target pembelajaran agar santri secara otomatis dapat dengan mudah memahami sekaligus bisa hafal terjemah makna Al-Qur’an sebanyak 65.692 kali pengulangan kata (84 %) dari total pengulangan lafadz dalam Al-Qur’an 77.865 kali (100 %) atau setara dengan 25 Juz Al-Qur’an.

Buku Tamyiz ini ditulis oleh Abza, M.M. berdasarkan hasil riset dengan mengembangkan pengalamannya waktu kecil mengaji kepada Kyai Anas Tamyiz, yang memberikan pengajian selepas sholat berjamaah Isya’ dengan metode yang mudah dan menyenangkan di Tajug Musholla At-Tamyiz Indramayu. Kyai Anas Tamyiz adalah putra ketiga Kyai Tamyiz bin Sentot AB. Masa muda Kyai Anas Tamyiz dihabiskan menuntut ilmu di “Pesantren Arjawinangun Cirebon yang di pimpin oleh Kyai Syatori” dan “Pesantren Kempek Cirebon yang dipimpin oleh Kyai Harun”. Selepas dari pesantren Kyai Anas Tamyiz sebelum pulang kampung meneruskan pembelajaran di Tajug peninggalan Abahnya, disamping itu Kyai Anas Tamyiz menjadi pentashih Al-Qur’an dan kitab-kitab yang diterbitkan oleh Penerbit Al-Ma’arif Bandung.

Metode pembelajaran yang diterapkan oleh Kyai Anas Tamyiz kepada para santrinya yang begitu menyenangkan membuat para santri lebih mudah dalam menangkap penjelasannya. Disamping itu Kyai Anas Tamyiz sering memberikan motivasi kepada para santrinya, salah satu pesan yang pernah disampaikan Kyai Anas Tamyiz yaitu :

Pahami metode belajar dengan menggunakan Al-Qur’an seperti ini, maka belajar kitab kuning akan terasa lebih mudah dan bisa dipelajari dengan otodidak. Begini dulu cara saya mengaji kepada Kyai Syatori di Pesantren Arjawinangun dan Kyai Harun di Pesantren Kempek”.

Daftar Pustaka

Abaza, “Tamyiz Pintar Terjemah Qur’an dan Kitab Kuning”, Indramayu: Yayasan Tamyiz Pesantren Bayt Tamyiz, 2016.

Abaza, dan Asaatidz Tamyiz, “Laduni Sentot Panduan Mengajar Tamyiz”, Indramayu: Yayasan Tamyiz Pesantren Bayt Tamyiz, 2015.

Al-Ghulayani, Syekh Mustafa, “Jami’ al Durus al Lughah al ‘Arabiyah”, Bairut, al Maktabah al Ashriyyah Shoida, tt.

Al-Qur’an Al-Karim KAWKABAN, “Untuk Menghafal Terjemah Makna Al-Qur’an Metode Tamyiz”, Indramayu: Yayasan Tamyiz Pesantren Bayt Tamyiz, 2017.

Fuad Effendi, Ahmad,  “Metodologi Pengajaran Bahasa Arab”,  Malang: Misykat, 2005.

Mukroji, “Metode Tamyiz Sebuah Formulasi Teori Nahwu Shorof Quantum”, Jurnal Kependidikan, Vol. II No. 1 Mei 2014.

Radar Indramayu, 2010.

Mitra Dialog Cirebon, Republika, 2010.